Air Asam Tambang – Indonesia

Apa itu AAT?

Pembentukan
Air asam tambang (AAT) atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai “acid mine drainage (AMD)” atau “acid rock drainage (ARD)” terbentuk saat mineral sulphida tertentu yang ada pada batuan terpapar dengan kondisi dimana terdapat air dan oksigen (sebagai faktor utama) yang menyebabkan terjadinya proses oksidasi dan menghasilkan air dengan kondisi asam.

Hasil reaksi kimia ini, beserta air yang sifatnya asam, dapat keluar dari asalnya jika terdapat air penggelontor yang cukup, umumnya air hujan yang pada timbunan batuan dapat mengalami infiltrasi/perkolasi. Air yang keluar dari sumber-nya inilah yang lazimnya disebut dengan istilah AAT tersebut.

AAT adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada air asam yang timbul akibat kegiatan penambangan, untuk membedakan dengan air asam yang timbul oleh kegiatan lain seperti: penggalian untuk pembangunan pondasi bangunan, pembuatan tambak, dan sebagainya.

Pada kegiatan penambangan, beberapa mineral sulphida yang umum ditemukan adalah:

  • FeS2: pyrite
  • Cu2S: chalcocite
  • CuS: cuvellite
  • CuFeS2: chalcopyrite
  • MoS2: molybdenite
  • NiS: millerite
  • PbS: galena
  • ZnS: sphalerite
  • FeAsS: arsenopyrite

Pyrite merupakan mineral sulphida yang umum ditemukan pada kegiatan penambangan, terutama batubara. Reaksi oksidasi pyrite adalah seperti ditunjukkan oleh reaksi kimia berikut, dengan air dan oksigen sebagai faktor penting.

reaksi

Tanda-tanda pembentukan dan pengaruhnya terhadap lingkungan
Terbentuknya AAT ditandai oleh satu atau lebih karakteristik kualitas air sbb.:

  • nilai pH yang rendah (1.5 – 4)
  • konsentrasi logam terlarut yang tinggi, seperti logam besi, aluminium, mangan, cadmium, tembaga, timbal, seng, arsenik dan mercury
  • nilai acidity yang tinggi (50 – 1500 mg/L CaCO3)
  • nilai sulphate yang tinggi (500 – 10.000 mg/L
  • nilai salinitas (1 – 20 mS/cm)
  • konsentrasi oksigen terlarut yang rendah

Berdasarkan hal tersebut diatas, apabila AAT keluar dari tempat terbentuknya dan masuk ke sistem lingkungan umum (diluar tambang), maka beberapa faktor lingkungan dapat terpengaruhi, seperti: kualitas air dan peruntukannya (sebagai bahan baku air minum, sebagai habitat biota air, sebagai sumber air untuk tanaman, dsb); kualitas tanah dan peruntukkanya (sebagai habitat flora dan fauna darat), dsb.

Faktor penting
Faktor penting yang mempengaruhi terbentuknya AAT di suatu tempat adalah:

  • konsentrasi, distribusi, mineralogi dan bentuk fisik dari mineral sulphida
  • keberadaan oksigen, termasuk dalam hal ini adalah asupan dari atmosfir melalui mekanisme adveksi dan difusi
  • jumlah dan komposisi kimia air yang ada
  • temperatur
  • mikrobiologi

Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut, maka dapat dikatakan bahwa pembentukan AAT sangat tergantung pada kondisi tempat pembentukannya. Perbedaan salah satu faktor tersebut diatas menyebabkan proses pembentukan dan hasil yang berbeda.
Terkait dengan faktor iklim di Indonesia, dengan temperatur dan curah hujan yang tinggi di beberapa lokasi dimana terdapat kegiatan penambangan, proses pembentukan AAT memiliki karakteristik yang berbeda dengan negara-negara lain, karena memiliki kondisi iklim yang berbeda.

Prediksi dan identifikasi
Prediksi dan identifikasi pembentukan AAT dapat dilakukan melalui penyelidikan karakter geokimia dari batuan. Dikenal ada dua cara untuk hal tersebut, yaitu melalui static test dan kinetic test.

Metode pengujian yang umum untuk static test meliputi: Net Acid Generation (NAG), Acid Neutralizing Capacity (ANC) dan analisa kandungan total sulfur (S) untuk mendapatkan nilai Maximum Potential Acid (MPA). Perlu diketahui bahwa nilai MPA yang dihitung berdasarkan total sulfur ini cenderung lebih besar potensi sebenarnya, karena yang terukur dalam total sulfur tidak hanya sulphide-sulfur, tapi juga organic-sulfur dan sulfate-sulfur. Dari nilai ANC dan MPA, kemudian dapat dihitung nilai Net Acid Production Potential (NAPP), dimana NAPP = MPA – ANC.

Berdasarkan nilai pH dari uji NAG dan nilai NAPP, maka selanjutnya dapat dilakukan pengklasifikasian jenis batuan berdasarkan sifat geokimianya. Sebagai contoh adalah seperti dibawah ini:

NAG pH ≥ 4; NAPP≤0: Non Acid Forming (NAF) dan NAG pH<0; NAPP>0: Potentially Acid Forming (PAF)

Selanjutnya, untuk mengetahui lebih detail kemungkinan pembentukan AAT, dilakukan kinetic test yang umum dilakukan dengan menggunakan kolom. Kondisi basah dan kering diterapkan terhadap batuan pada kolom, dan perubahan nilai parameter kualitas air yang keluar dari kolom tersebut dianalisa untuk mengetahui perilaku atau trend pembentukan AAT-nya.

Design kolom dan ukuran batuan dalam pengujian ini sangat penting untuk diperhatikan.

Pada umumnya, static test dilakukan untuk mengetahui secara cepat potensi pembentukan AAT dari sejumlah batuan, sedangkan kinetic test, dikarenakan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan hasil yang mewakili, dilakukan untuk mengetahui karakter batuan yang dominan di sebuah lokasi tertentu, atau untuk mempertajam hasil analisa dari static test. Pengujian kolom juga dapat dilakukan untuk tujuan-tujuan tertentu yang lain seperti untuk mengetahui pengaruh faktor lain (curah hujan, pencampuran dengan material lain, perubahan faktor fisik, dsb) terhadap pembentukan AAT.

Penanganan

Secara umum, penanganan masalah AAT dibagi dua, yaitu: pencegahan pembentukan AAT dan penanganan AAT yang telah terbentuk, khususnya yang akan keluar dari lokasi kegiatan penambangan.

1. Pencegahan pembentukan AAT

Pencegahan pembentukan AAT, seperti dijelaskan pada reaksi kimia diatas, dilakukan dengan mengurangi kontak antara mineral sulphida (dalam reaksi tersebut sebagai pyrite) dengan air dan oksigen diudara. Secara teknis, hal ini dilakukan dengan menempatkan batuan PAF pada kondisi dimana salah satu faktor tersebut relatif kecil jumlahnya. Secara umum, dikenal 2 cara untuk melakukan hal tersebut, yaitu dengan menempatkan batuan PAF dibawah permukaan air (dimana penetrasi oksigen terhadap lapisan air sangat rendah) atau dikenal dengan istilah wet cover systems, atau dibawah lapisan batuan/material tertentu dengan tingkat infiltrasi air dan difusi/adveksi oksigen yang rendah, umumnya disebut sebagai dry cover system. Dengan menerapkan metode ini, diharapkan pembentukan AAT dapat dihindari.

2. Penanganan AAT yang telah terbentuk

Penanganan AAT yang telah terbentuk, yang berpotensi keluar dari lokasi penambangan, dilakukan untuk mencapai kondisi kualitas air seperti yang disyaratkan dalam peraturan pemerintah tentang kualitas air. Secara umum terdapat dua cara pengolahan air, yaitu secara aktif dan pasif.
Sebagai contoh, seperti disebutkan diatas, salah satu parameter penting yaitu pH. Untuk menaikkan nilai pH ke kondisi normal, maka dilakukan beberapa upaya diantaranya adalah dengan penambahan bahan kimia seperti kapur (lime). Secara aktif, kapur (berbentuk serbuk/tepung) dicampurkan secara langsung dengan air asam di saluran air atau wadah khusus, atau di kolam penampungan air. Sedangkan secara pasif, air asam dialirkan melalui saluran-saluran dimana terdapat kapur (dalam bentuk batuan) sebagai “media penetral” air asam yang melaluinya.

32 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. rizki alrita putri said, on 30/01/2010 at 20:39

    salam….
    mau nanya ada gak manfaat dari asam tambang ini???

    • airasamtambang said, on 12/05/2010 at 10:37

      Sampai saat ini saya belum menemukan tulisan yang menyebutkan manfaat air asam secara ekonomis.
      Namun secara teknis, beberapa penelitian peluruhan kandungan logam dari suatu media dengan menggunakan air asam pernah dilakukan.

      Terima kasih
      Candra

      • airasamtambang said, on 16/10/2011 at 23:52

        Rizki,
        Penelitian kami terakhir menunjukkan adanya fungsi dari air asam dalam menurunkan kekeruhan air. Semoga dalam waktu dekat hasil tersebut dapat kami upload disini.

        Salam,
        Candra

  2. Fanteri Aji Dharma said, on 16/03/2010 at 20:14

    Mas Candra, saya Fanteri.
    Mas, sekarang saya sedang tugas akhir tentang air asam tambang, topiknya tentang material blending antara PAF dan NAF.
    Nah, mas ada yang saya bingungkan, diantaranya :
    1, Bagaimana menentukan komposisi yang representatif antara PAF dan NAF? Salah satu kenalan saya menyarankan menunggu hasil dari uji statik, cuma saya jadi tambah bingung..
    2, Mas, di tulisan mas tentang Acid mine drainage generation due to physical rock weathering at dumping site in coal mine, Indonesia. Di chapter 5 disebutkan bahwa dengan blending potensi terbentuknya AAT akan lebih kecil daripada layering. Apakah ini sudah diuji? Kira-kira alasannya apa ya, Mas.

    Terimakasih

    • airasamtambang said, on 12/05/2010 at 10:35

      Mas Fanteri,

      1. Komposisi yang representatif dapat dilakukan melalui beberapa tahap yang direkomendasikan, namun tidak harus selalu dilakukan seluruhnya, yaitu:
      1. Uji statik
      2. Uji kinetik
      3. Uji kolom di lapangan
      4. Uji lapangan
      Hasil seluruh pengujian dapat dianalisa secara komprehensif dengan memperhatikan faktor eksternal di lapangan seperti cuaca. Perlu diperhatikan dalam hal ini adalah perubahan kondisi fisik batuan akibat cuaca tersebut.

      2. Hasil kajian saya saat itu menyimpulkan hal tersebut. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan adanya hasil kajian lain yang mempunyai kesimpulan yang berbeda.

      Terima kasih
      Candra

  3. muhsin said, on 17/03/2010 at 15:45

    salam…
    iya apa aja sih manfaat dari AAT ituh, dari tadi kerugianya aja yang d sampaikan>>>>>>
    seumpama d jual AAT, laku ndk AAt toh…….

    • airasamtambang said, on 16/10/2011 at 23:52

      Muhsin,
      Penelitian kami terakhir menunjukkan adanya fungsi dari air asam dalam menurunkan kekeruhan air. Semoga dalam waktu dekat hasil tersebut dapat kami upload disini.

      Salam,
      Candra

  4. sancoyonugroho said, on 02/08/2010 at 01:00

    bagaimana meminimalisir aat yang bercampur dengan lumpur cair
    trims

    • airasamtambang said, on 11/05/2011 at 22:35

      Mas Sancoyo,
      Mohon maaf sebelumnya karena pertanyaannya kurang jelas. Jika yang dimaksud adalah mengurangi tercampurnya AAT dengan lumpur, maka sistem drainase-lah yang harus dibuat dengan baik. Tercampurnya AAT dengan lumpur cair bisa berarti dua masalah, yaitu pH dan TSS. pH sendiri dapat menjadi pemicu tingginya kandungan logam terlarut.
      Drainase yang baik, termasuk pembuatan kolam yang memadai untuk pengolahan air asam, akan membantu mengatasi permasalahan secara umum.

      Demikian dan mohon maaf jika kurang pas jawabannya.
      salam
      Candra

      • arief abdullah said, on 25/05/2012 at 15:59

        kalo air asam tambang tercampur lumpur bisa di buatkan boxcut atau kolam pengendap lumpur

  5. Wike said, on 12/04/2011 at 12:34

    Mas, saya sangat tertarik dengan artikel ini,
    namun ada beberapa hal yang ingin ditanyakan, boleh yaa..:)
    1. klasifikasi pengelompokan NAG ph dan NAPP sumbernya dari mana yaa?
    2. cara perhitungan ANC ?

    sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih.
    salam,
    wike

    • airasamtambang said, on 11/05/2011 at 22:27

      Wike,
      NAG pH diperoleh melalui uji di laboratorium. Begitu juga dengan perhitungan NAPP dan ANC. NAPP dihitung dari nilai Maximum Potential Acidity (MPA) dikurangi nilai ANC.
      MPA sendiri dihitung dari nilai kandungan sulphur yang ada pada batuan.
      Cara analisa lab dan perhitungan akan saya simpan di publikasi segera.

      Salam dan terima kasih
      Candra

  6. syahril said, on 26/06/2011 at 08:56

    Mas,
    Saya tertarik dengan tulisan ini. saya mau tanya, gimana mekanisme kerja dan sampling untuk NAG.
    Terimaksih

    salam,
    Syahril

    • Candra Nugraha said, on 20/07/2013 at 12:16

      Mas Syahril,
      NAG adalah metode analisa batuan untuk mendapatkan potensi akhir pembentukan asam, setelah asam tersbut bereaksi dengan basa (jika ada) dalam batuan tersebut. Jadi, dengan mengetahui NAG, maka kita sudah bisa mengklasifikasikan apakah batuan itu pada akhirnya akan berpotensi asam atau tidak.

      Metode NAG test saat ini banyak mengacu ke teknik yang dikembangkan AMIRA. Nanti saya usahakan tampilkan disini.

      Untuk sampling batuan, tergantung dari kegiatannya (eksplorasi, drill blast hole, atau dumping area). Yang jelas perlu diupayakan agar sampel yang diambil dapat mewakili.

      Salam,
      Candra

  7. Angga said, on 05/09/2011 at 10:26

    Halo Mas Candra,

    Untuk pabrikasi unit neutramill di indonesia ada dimana ya? mungkin bisa share info. atau ada produk dalam negeri?

    Salam,
    Angga.W

    • airasamtambang said, on 16/10/2011 at 23:56

      Mas,
      Neutramill sebagai merek terdaftar sebuah unit adalah produk Australia. Saat ini alat tersebut dibuat di Cina. Sampai saat ini saya belum mendapatkan info pabrikasi untuk unit yang sejenis/cara kerjanya mirip neutramill di Indonesia. Jika Mas Angga mendapatkan info duluan, mohon bisa di share disini.

      Salam,
      Candra

  8. Yan Lepong said, on 08/01/2012 at 17:12

    Hallo Pa Can..
    salam kenal buat semua pembaca blog ini.
    sedikit info tambahan dari saya, untuk analisis NAG masih terbagi jadi 2 lagi yaitu analisis secara Kuantitatif dan Kualitatif. Analisis Kuantitatif yaitu pengklasifikasian tingkat potensi keasaman batuan berdasarkan banyaknya/jumlah Kg H2SO4 per ton batuan. Sedangkan untuk analisis Kualitatif adalah pengklasifikasian tingkat potensi keasaman batuan berdasarkan nilai pH larutan sampel NAG. Biasanya metoda yang kedua inilah yang lebih tepat untuk digunakan di site karena selain akurasinya juga hasil analisis yang lebih cepat diperoleh sehingga lebih memudahkan pada waktu akan diaplikasikan di lapangan.
    semoga bermanfaat…..

    salam,
    Yan L

    • airasamtambang said, on 12/02/2012 at 01:08

      Pa Yan,
      Terima kasih tambahan informasinya.

      Salam,
      Candra

  9. arief8989 said, on 25/05/2012 at 16:05

    Hallo Mas, saya Arief Abdullah, saya berkerja di pertambangan batubara. Saya ada kendala di masalah air asam tambang. pH air saya sesuai standar baku mutu, tapi yang jadi masalah saat ini adalah kandungan besi (Fe) tinggi.
    Bagaimana mengatasi masalah itu?

    Tolong bantu solusinya.
    Hormat saya,

    Arif Abdullah

    • Candra Nugraha said, on 20/07/2013 at 12:02

      Mas Arif, mohon maaf telat membalas pertanyaan. Masalah Fe di tambang batubara memang seringkali terjadi, termasuk juga Mn, meskipun pH sudah memenuhi baku mutu. Untuk mengatasi hal ini salah satunya adalah dengan mengoksidasi Fe tersebut dengan teknis aerasi. Metode aerasi ini pada intinya adalah menciptakan kontak antara Fe terlarut dengan oksigen di udara. Secara lapangan, bisa dilakukan dengan membuat saluran/bangunan air yang menciptakan riak/gelombang/terjunan (turbulensi). Atau bisa juga menggunakan mesin khusus yang menciptakan kondisi tersebut (aerator).

      Salam,
      Candra

  10. ya2x said, on 05/06/2012 at 14:58

    Yang saya hormati Pa Yan,
    saya ingin bertanya, bagaimana temperatur mempengaruhi pembentukan AAT?

  11. jay said, on 27/05/2013 at 12:38

    Dear Mas Candra,

    Apakah fungsi analisa Pyritic Sulphur untuk AAT?
    Karena saya liat d list form analisa di salah satu vendor ada mencantumkan analisa tersebut yg diperlukan

    salam,
    J

    • Candra Nugraha said, on 20/07/2013 at 12:06

      Mas Jay,
      Ada yang disebut dengan Total Sulphur, yang terdiri dari: sulphat sulphur, organic sulphur, dan pyritic sulphur. Pyritic sulphur adalah sulphur besi yang berkorelasi langsung dengan pembentukan air asam tambang (FeS2). Oleh karena itu, mengetahui pyritic sulphur diperlukan agar perhitungan potensi air asam tambang bisa lebih tepat, dibandingkan dengan menggunakan Total Sulphur.

      Demikian semoga membantu.
      Salam

  12. cahyoga said, on 17/07/2013 at 10:20

    Salam kenal pak candra.

    Kebetulan skrg saya sdang penelitian mengenai pengolahan aktif air asam tambang. Apakah pak candra punya referensi tulisan mengenai ini? Jika ada mengenai pond treatment, atau modifikasi2 yg diterapkan untk pond treatment dgn penambhan kapur. Terimakasih

  13. Budi yuniarto said, on 07/08/2013 at 10:01

    pada penelitian saya, didapat TSS sangat tinggi sehingga alat spektofotometri tidak dapat membaca, sehingga harus dilakukan pengenceran sehingga alat bisa membaca total TSS dalam air, ketika mengukur Fe dan Mn pun tidak dapat terbaca jika tidak dilakukan pengenceran.
    yang saya tanyakan
    – apakah pengenceran berlaku untuk menghitung Fe dan Mn ? (sedangkan jika dilakukan pengenceran Fe dan Mn mencapai nilai diatas 30 pada TSS 13000 mg/L)

    • Budi yuniarto said, on 07/08/2013 at 10:04

      tambahan:
      – apakah mungkin nilai Fe Mn diatas 30 mg/L ?

      info: yang saya teliti ketika TSS mencapai nilai dibawah 2000, Fe dan Mn memiliki nilai yang wajar 1-3 mg/L
      jadi apakah besarnya TSS akan berpengaruh pada besarnya kadar Fe dan Mn ? atau hanya karena kelemahan pada alat ukur ?
      terima kasih pak..

    • Candra Nugraha said, on 17/02/2014 at 18:00

      Pak Budi,
      Pengukuran TSS yang standard adalah dengan menggunakan gravimetric method. Bisa jadi, terjadi ketidakakuratan jika diukur dengan spectrofotometri.
      Pengenceran berlaku untuk pengukuran Fe dan Mn dengan spektrofotometri.
      Fe dan Mn sangat mungkin memiliki nilai yang tinggi, tergantung kondisi geokimia batuannya.
      Tidak ada korelasi yang pasti antara TSS dengan Fe dan Mn. Namun demikian, karena pengukuran dilakukan dalam bentuk “Total Fe” dan “Total Mn”, maka sangat memungkinkan pada TSS yang tinggi terdapat nilai Fe dan Mn yang tinggi.

      Salam,

  14. geri said, on 19/08/2013 at 14:57

    apakah ada contoh perhitungan biaya untuk penanggulangan air asam tambang?

  15. jaya said, on 05/10/2013 at 16:35

    kalau proses pembentukan arsenopyrite itu bagaimana ya pak ?

  16. syamsidar said, on 12/12/2013 at 05:37

    Terbentuknya AAT ditandai oleh satu atau lebih karakteristik kualitas air sbb.:

    nilai pH yang rendah (1.5 – 4)
    konsentrasi logam terlarut yang tinggi, seperti logam besi, aluminium, mangan, cadmium, tembaga, timbal, seng, arsenik dan mercury
    nilai acidity yang tinggi (50 – 1500 mg/L CaCO3)
    nilai sulphate yang tinggi (500 – 10.000 mg/L
    nilai salinitas (1 – 20 mS/cm)
    konsentrasi oksigen terlarut yang rendah

    saya ingin mengetahui karakteristik kualitas air pada AAT ini sumber aslinya berasal dari mana, krn saya ingin belajar lebih dalam,,trims atas bantuannya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: