Air Asam Tambang – Indonesia

Ukuran batuan dalam proses pembentukan air asam

Ditulis dalam Diskusi oleh airasamtambang pada 08/11/2009

tere_******@yahoo.com

Tanya:

Saya Tere ingin menanyakan bagaimana hubungan antara ukuran butir pada OB terhadap pembentukan air asam batuan dalam upaya mitigasi dengan metode blending..pencampuran batuan kasar dan halus..

Jawab:

Ukuran butiran sangat terkait dengan luas permukaan yang dapat bereaksi membentuk air asam. Secara umum, semakin kecil ukuran butir batuan, maka total luas permukaan semakin semakin besar.

Berdasarkan logika tersebut, maka mitigasi dapat dicoba dengan menggunakan batuan asam berukuran butir lebih besar dibandingkan dengan ukuran butir dari batuan non asam.

Selain luas permukaan batuan asam yang akan lebih kecil, keberadaan batuan non asam (dengan butiran yang lebih kecil) akan membantu membentuk semacam “selimut” terhadap batuan asam.

Namun, dalam upaya mitigasi dengan pencampuran batuan kasar dan halus, hal yang harus diperhatikan adalah komposisi antara batuan asam dan non asam, dan perubahan kondisi fisik dari batuan tersebut, khususnya kecepatan peluruhan batuan. Di artikel ini, sedikit dijelaskan peran peluruhan batuan terhadap potensi pembentukan air asam. Berdasarkan percobaan lain yang telah dilakukan pada batuan sedimen, perubahan kondisi fisik lapisan batuan akibat proses peluruhan sangat berperan dalam proses pembentukan air asam.

4 Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. tere berkata, pada 17/11/2009 pada 00:26

    apabila dihubungkan kepada analisis ayakan seperti apa?dan bagaimana proses nya..

  2. airasamtambang berkata, pada 20/11/2009 pada 23:17

    Tujuan pelaksanaan analisa ayakan adalah untuk mengetahui distribusi ukuran butir batuan. Dengan mengetahui distribusi ukuran batuan yang sama pada kurun waktu yang berbeda, kita dapat mengetahui apakah terjadi peluruhan batuan atau tidak.

    Lebih jauh mengenai prosedur dan kegunaan analisa ini bisa dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Sieve_analysis dan http://en.wikipedia.org/wiki/Soil_gradation

  3. Fanteri berkata, pada 26/05/2010 pada 13:43

    Mas, saya Fanteri

    Mas, maaf mau tanya lagi.
    Dalam 2nd International Symposium of Novel Carbon Resource Science, di karya tulis Mas Candra dengan Hideki Shimada,

    “The composition of mixed materials for field column test were determined based on the relationship between the weight percentage of PAF materials to the results of NAG test.”

    Apakah ini yang menjadi dasar dalam penentuan komposisi campuran material PAF dan NAF? Kira-kira teknis penentuan komposisinya seperti apa?

    Terimakasih

    • Candra Nugraha berkata, pada 13/02/2012 pada 12:42

      Mas,
      Maaf baru balas.
      Pada tahap awal percobaan, komposisi campuran ditentukan berdasarkan hasil uji NAG test untuk berbagai komposisi.
      Untuk penentuannya, dibuat perbandingan persentase berat dengan dengan kenaikan per 10% berat. Misalnya, komposisi 1 = NAF 80%; PAF 20%, komposisi 2 = NAF 70%; PAF 30%, dst.

      Salam,
      Candra


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.