Air Asam Tambang – Indonesia

Penimbunan batuan

Ditulis dalam Diskusi oleh airasamtambang pada 27/07/2009

2009/5/13 Nita <*****@gmail.com>

Assalamu alaikum,

Saya ingin menanyakan tentang suatu sistem penimbunan. Saya pernah membaca dari sebuah laporan mengenai sistem penimbunan yang diterapkan pada salah satu tambang, dimana di laporan tersebut ditulis beberapa alternatif penimbunan yang disesuaikan dengan jumlah material yang tersedia di lokasi tersebut.

Dari hasi pengamatan saya ketika saya melakukan penelitian di sebuah tambang, sistem penimbunan yang dilakukan tidak menggunakan lapisan yang kedap air karena jumlah yang tidak memadai, sehingga hanya dilakukan penimbunan langsung menggunakan soil. Dari hasil pengamatan pun diketahui hampir sebagian besar tanah berifat asam.

Yang ingin saya tanyakan, apakah air limpasan tanah tersebut dapat dikatakan sebagai air asam tambang?

Bagaimanakah sistem penimbunan yang efektif untuk pencegahan terbentuknya AAT dengan hanya menggunakan tanah sebagai cover dari OB yang bersifat PAF sedangkan jumlah tanah terbatas?

Terima kasih atas perhatianya

Ditandai sebagai:, , ,

2 Tanggapan - tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. airasamtambang berkata, pada 27/07/2009 at 04:18

    Waalaikum salam.

    1. Istilah “air asam” secara umum digunakan untuk menunjukkan air yang mempunyai sifat asam, secara teknis jika mempunyai pH < 6. Selama memenuhi kriteria itu, baik air limpasan (run off) maupun air tanah (ground water) yang dihasilkan dari kegiatan pertambangan, maka layak disebut "air asam tambang".

    2. Penimbunan yang efektif
    Konsep dasar dari desain timbunan adalah mengurangi kontak mineral pembangkit asam (umumnya pyrite) dengan salah satu komponen: air dan oksigen. Dengan mengurangi salah satu komponen tersebut, maka potensi pembentukan AMD nya pun rendah. Secara umum, konsentrasi oksigen sangat tergantung pada kondisi kejenuhan air pada timbunan (water saturation). Secara teknis, pengurangan konsentrasi oksigen dapat dilakukan dengan melakukan pemadatan lapisan batuan yang dimaksudkan untuk mengurangi volume ruang kosong antar batuan. Dengan volume air yang sama, namun dengan volume ruang kosong yang semakin kecil, maka tingkat kejenuhan air akan semakin tinggi, dan konsentrasi oksigen yang dapat masuk ke timbunan tersebut semakin rendah. Hal ini berlaku untuk seluruh jenis batuan, dan tidak melihat faktor NAF atau PAF dari batuan tersebut.

    Namun demikian, jika hanya batuan PAF yang tersedia, memang agak menyulitkan. Pada lapisan teratas dari timbunan, kondisi basah-kering akan terjadi karena perubahan cuaca. Hal ini mengakibatkan berubah-rubahnya tingkat kejenuhan dari lapisan tersebut, dan sangat memungkinkan masuknya oksigen dan terjadi proses oksidasi pyrite.
    Secara teori, kompaksi bisa memberikan efek positif, dan satu hal lain yang bisa mengurangi kondisi yang berubah-rubah dari lapisan teratas tersebut adalah (setelah dilakukan kompaksi) dengan penyebaran topsoil.
    Selain penting untuk vegetasi, topsoil juga dapat mengurangi agar perubahan kejenuhan air dari lapisan OB tidak terlalu signifikan

    Demikian dari saya. Jika ada yang kurang paham, silahkan ditanyakan kembali.
    May 19, 2009 12:42 PM

  2. Buruh Tambang berkata, pada 03/05/2010 at 18:35

    Wass Wr Wb.,
    Pengalaman praktis kami di lapangan sbb.:
    - Jika waste material mayoritasnya PAF, kelihatanya teknik “Cell Dump” yang paling reliable
    - Lebih bagus kalau ada sedikit sisa NAF waste yg bisa dijadikan “Outer Barrier”
    - Ada tidak cukup clay (bukan top soil) di sekitar tambang yang bisa dijadikan “Barrier Material” –> term umum “lateritic material”
    - Dilakukan LOM Analysis Material Balance, sehingga bisa diatur stacking strategy /design cell dump, lakukan juga analisa terhadap “Low Grade Management”, apalagi kalau low grade-nya bersifat NAF
    - Teknik ini juga digunakan utk merecover Bijih Emas yang bisa terlindi (Phyrotite type ore biasanya) menggunakan teknik “Heap Leaching” yang menghasilkan “Pregnant Solution” yang akan dipompa ke unit SX/EX Process di Plant
    - Filosofi Dasar design Cell dump:
    1). Maximalisasi tonage waste yg tertampung pada cost minum sepanjang “mine life”
    2).Out Put Design –> Safe,Stable, Non poluting structure
    3). Minimalisasi potensi dari “mine closure issue”
    - Output yg dihasilan dari design yg baik :
    1) Geometri Struktur dan Stacking Strategy –> Geotehnical parameter, hydrologi, dsb.
    2) HDPE Lining system
    3) Under/Finger Drain and Mega flow design
    4) Leachate pipe working system from Cell Dump to TSF (Pipe/pumping system)
    5) Acid Water Pond Around Cell Dump –> to collect leachate product from item 3
    6) Integrated Monitoring system –> Bore hole/instrumentasi
    7).Maintenance System for Reliability, Prosedur Clay Lift etc
    - Cost untuk project ini TIDAK MURAH, sangat beragam antara 6-12 jt $$ atau lebih untuk size 250 K Mine bergantung pada banyak faktor design/kondisi endapan
    - Namun bila dilakukan analisa NPV, IRR, Pay Back, CF Index terhadap resiko Rehandle material atau Environmental Clean Up Cost etc biasanya Feasible
    - Dan rasanya Company yang baik tidak akan mau mempertaruhkan resiko/reputasi mereka sebagai “Public List company”dan tanggung jawabnya pada Stake Holders

    Semoga Berguna…Terimakasih.


Tinggalkan Balasan