Air Asam Tambang – Indonesia

Pintu depan

Posted in Diskusi by airasamtambang on 27/07/2009

Selamat datang pengunjung.

Blog ini dibuat oleh kami, sekedar untuk berbagi sedikit pengetahuan yang kami miliki mengenai hal-hal yang terkait dengan air asam tambang, atau lazim disingkat dengan AAT. Bagi yang baru mendengar dengan istilah tersebut, silahkan kunjungi bagian Apa itu AAT?. Namun bagi yang sudah terbiasa dengan istilah tersebut, sudilah kiranya untuk urun rembug diforum diskusi, seperti tercantum di bawah tulisan ini. Secara perlahan blog ini akan kami kembangkan, termasuk pencantuman beberapa Publikasi yang sifatnya bebas untuk dikutip, tentu saja dengan tetap memperhatikan hak atas kekayaan intelektual pengarangnya, baik yang bersumber dari dalam maupun luar negeri.

Berbicara soal AAT, bukan bicara soal ilmu baru. Sudah lama dunia pertambangan, baik mineral maupun batubara, mengenalnya, termasuk di Indonesia. Di blog ini, kami hanya mencoba untuk mengumpulkan serpihan-serpihan informasi mengenai hal ini di Indonesia, dan mencoba menyampaikannya kembali dengan lebih (mudah-mudahan) terpola.

Semoga blog ini dapat membawa manfaat bagi pengelolaan air asam tambang secara khusus, dan lingkungan pertambangan di Indonesia pada umumnya.

Terima kasih telah mengunjungi kami.

Tagged with: , ,

Pengelolaan tanah penutup pada pertambangan nikel

Posted in Tak Berkategori by airasamtambang on 13/02/2012
Sebuah pertanyaan masuk ke admin airasamtambang.info seperti dibawah:
 
———–
Mau menanyakan tentang pengelolaan tanah penutup pada penambangan nikel yang berpotensi menghasilkan air asam tambang. Yang saya ingin tanyakan, bagaimana mengelola tanah penutup di daerah penambangan nikel tersebut? Apakah pencegahannya  sama dengan yang dilakukan pada penambangan  batubara?
 
Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.
 
———
 
Dipersilahkan bagi rekan-rekan yang ingin berbagi terkait pertanyaan ini.
 
Salam,
Admin
Tagged with: ,

AAT di tambang timah

Posted in Tak Berkategori by airasamtambang on 12/05/2010

huda berkata, pada 25/03/2010 at 20:30

Salam,
saya ingin mengetahui perbedaan perlakuan AAT antara tambang batubara dan timah. Kebanyakan hanya membahas penurunan derajat keasaman saja tanpa membahas efek racun yang dibawa oleh AAT ini. Adakah penelitian yang melibatkan agen bioremediasi namun menggunakan tanaman (bukan bakteri atau alga) terutama untuk logam2 berat. Sebab bila menggunakan kapur saja, ini hanya berpengaruh dan efektif untuk wilayah terbatas, namun bila luas kawasan mencapai ratusan bahkan ribuan hektar, apakah tetap efektif?
Terima kasih

—-

Fanteri berkata, pada 07/05/2010 at 15:42

Mas, apakah ada potensi pembentukan air asam tambang di pertambangan timah?

Terimakasih

Pemilihan jenis analisa batuan

Posted in Diskusi by airasamtambang on 10/11/2009

f*****@*********.co.id

Tanya:

Ian Wark Institute membagi metode NAG test ke dalam 3 tipe, yakni single addition NAG test, sequential NAG test, dan kinetic NAG test. Single addition NAG test tepat digunakan utk sampel dengan total sulfur < 1.5%. Namun demikian, jika kita ingin melanjutkan ke sequential NAG test, maka akan membutuhkan waktu sekitar 2 hari, sehingga secara operasional pemindahan OB setelah blasting tidak akan terpenuhi. Mohon pendapat, metode NAG test yang mana yang tepat digunakan.

 

Jawab:

Untuk kepentingan operasi yang hanya membagi batuan dalam NAF dan PAF, NAG test lebih umum digunakan dengan hanya melihat nilai NAG pH-nya pada akhir reaksi batuan dengan larutan hydrogen peroxide (H2O2).

Namun, apabila diperlukan data batuan lebih lengkap, yaitu memprediksi nilai total kg H2SO4/ton batuan, analisa secara lebih detail dengan titrasi NaOH serta sequential NAG test dapat dilakukan. Memang, pelaksanaan analisa ini memerlukan waktu yang lama.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pemilihan jenis pengujian disesuaikan dengan tujuannya, termasuk dalam hal ini tujuan dari pengelolaan batuan tersebut.

 

Ukuran batuan dalam proses pembentukan air asam

Posted in Diskusi by airasamtambang on 08/11/2009

tere_******@yahoo.com

Tanya:

Saya Tere ingin menanyakan bagaimana hubungan antara ukuran butir pada OB terhadap pembentukan air asam batuan dalam upaya mitigasi dengan metode blending..pencampuran batuan kasar dan halus..

Jawab:

Ukuran butiran sangat terkait dengan luas permukaan yang dapat bereaksi membentuk air asam. Secara umum, semakin kecil ukuran butir batuan, maka total luas permukaan semakin semakin besar.

Berdasarkan logika tersebut, maka mitigasi dapat dicoba dengan menggunakan batuan asam berukuran butir lebih besar dibandingkan dengan ukuran butir dari batuan non asam.

Selain luas permukaan batuan asam yang akan lebih kecil, keberadaan batuan non asam (dengan butiran yang lebih kecil) akan membantu membentuk semacam “selimut” terhadap batuan asam.

Namun, dalam upaya mitigasi dengan pencampuran batuan kasar dan halus, hal yang harus diperhatikan adalah komposisi antara batuan asam dan non asam, dan perubahan kondisi fisik dari batuan tersebut, khususnya kecepatan peluruhan batuan. Di artikel ini, sedikit dijelaskan peran peluruhan batuan terhadap potensi pembentukan air asam. Berdasarkan percobaan lain yang telah dilakukan pada batuan sedimen, perubahan kondisi fisik lapisan batuan akibat proses peluruhan sangat berperan dalam proses pembentukan air asam.

Sample standard dan program pengujiaan

Posted in Diskusi by airasamtambang on 28/07/2009
Sebuah e-mail tanggal 23 Juli 2009 terkirim ke airasamtambang@gmail.com dari hasan*******@*********.co.id


Tanya:

Saat ini kami membutuhkan sample standard atau suatu program yang diikuti oleh beberapa laboratorium untuk  mengikuti uji profisi sebagai acuan kualitas/akurasi analisa kami.

Mohon dapat diberikan informasinya. Terima kasih

 

Jawab:

sebuah “standard” memang biasanya digunakan sebagai acuan untuk mengetahui klasifikasi hasil analisa yang kita peroleh. Sepengetahuan saya, dalam analisa contoh batuan, “standard” yang digunakan untuk meng-klasifikasikan jenis batuan adalah seperti yang umum digunakan, yaitu melalui nilai NAG pH, nilai NAG (kg H2SO4/ton) atau nilai NAPP (kg H2SO4/ton). Adapun “sample standard” (yang dimaksud dalam pertanyaan) mungkin dapat diartikan sebagai contoh batuan yang sudah diketahui karakteristiknya secara jelas dan konsisten dalam beberapa kali pengujian, sehingga dapat digunakan sebagai acuan dalam proses analisa. Oleh karena itu, menurut hemat saya, “sample standard” dapat ditentukan oleh masing-masing laboratorium, terdiri dari berbagai klasifikasi batuan (NAF, PAF) dengan berbagai type-nya.

Terkait dengan “standard” (seperti disebutkan juga dalam pertanyaan) adalah soal akurasi, yang berarti soal quality control/quality assurance (QA/QC) dari suatu prosedur analisa.

Untuk memastikan bahwa prosedur analisa yang dilakukan mempunyai tingkat akurasi yang baik, maka QA/QC harus dilakukan, salah satunya adalah melakukan pengujian terhadap “sample standard” dengan prosedur analisa yang sama/konsisten untuk sampel-sampel yang lain. Dengan membandingkan hasil analisa terhadap “sample standard” dengan nilai “sample standard” yang telah diketahui sebelumnya, maka akan diketahui tingkat akurasi prosedur analisa tersebut. Akurasi yang baik akan menjamin hasil yang baik untuk sampel-sampel batuan lain yang dianalisa.

Demikian dari saya, lebih kurangnya mohon maaf.

Salam.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.