Air Asam Tambang – Indonesia

Pintu depan

Posted in Diskusi by Candra Nugraha on 27/07/2009

Selamat datang pengunjung.

Blog ini dibuat oleh kami, sekedar untuk berbagi sedikit pengetahuan yang kami miliki mengenai hal-hal yang terkait dengan air asam tambang, atau lazim disingkat dengan AAT. Bagi yang baru mendengar dengan istilah tersebut, silahkan kunjungi bagian Apa itu AAT?. Namun bagi yang sudah terbiasa dengan istilah tersebut, sudilah kiranya untuk urun rembug diforum diskusi, seperti tercantum di bawah tulisan ini. Secara perlahan blog ini akan kami kembangkan, termasuk pencantuman beberapa Publikasi yang sifatnya bebas untuk dikutip, tentu saja dengan tetap memperhatikan hak atas kekayaan intelektual pengarangnya, baik yang bersumber dari dalam maupun luar negeri.

Berbicara soal AAT, bukan bicara soal ilmu baru. Sudah lama dunia pertambangan, baik mineral maupun batubara, mengenalnya, termasuk di Indonesia. Di blog ini, kami hanya mencoba untuk mengumpulkan serpihan-serpihan informasi mengenai hal ini di Indonesia, dan mencoba menyampaikannya kembali dengan lebih (mudah-mudahan) terpola.

Semoga blog ini dapat membawa manfaat bagi pengelolaan air asam tambang secara khusus, dan lingkungan pertambangan di Indonesia pada umumnya.

Terima kasih telah mengunjungi kami.

Tagged with: , ,

Pengaruh temperatur pada reaksi oksidasi

Posted in Diskusi by Candra Nugraha on 28/07/2012

Banyak faktor yang menentukan kecepatan reaksi oksidasi mineral pyrite dalam pembentukan air asam, diantaranya adalah keberadaan bakteri, kondisi pH, luas permukaan pyrite, temperatur, dan konsentrasi oksigen. Faktor-faktor ini berinteraksi satu sama lain secara rumit. Tulisan ini sedikit mengulas pengaruh temperatur.

Dalam reaksi kimia secara umum, pengaruh temperature terhadap kecepatan reaksi dijelaskan secara singkat di laman ini.

Selanjutnya dalam kaitannya dengan pembentukan air asam, saya awali dengan mengutip dari laman ini:

Effect of Temperature – In general, the rates of reactions that form AMD increase with increasing temperature, so that AMD is formed faster if the pyritic material is warm. An exception to this trend is the rate of Fe oxidation by T. ferrooxidans above about 35oC. These bacteria thrive at optimum temperatures of 25 to 35oC, but they become inactive or die as temperatures increase to about 55oC (Cathles, 1979). Measurements indicate that oxidizing sulfide-rich material can warm internally to temperatures at least as high as 60oC because of the heat released by the oxidation reactions (Cathles and Apps, 1975). Some sulfide-rich material actually undergoes spontaneous combustion.

Seperti disebutkan juga diatas, reaksi oksidasi pyrite bersifat eksotermis, artinya menghasilkan panas. Dan perubahan temperatur akibat reaksi ini tentunya akan juga mempengaruhi kecepatan reaksi. Dalam analisa Net Acid Generation (NAG) test, kondisi eksotermis seringkali teridentifikasi secara nyata/langsung melalui tabung sample yang terasa panas setelah penambahan larutan Hydrogen Peroxide pada sampel batuan, apabila batuan tersebut mengandung pyrite, khususnya yang reaktif.

Penelitian yang dilakukan oleh Lovisa Larsson dkk yang berjudul “Leaching of Sulfidic Alum Shale Waste at Different Temperature” yang dipresentasikan di ICARD 2012 menyimpulkan bahwa kecepatan oksidasi meningkat seiring dengan meningkatnya temperatur. Hal ini ditunjukkan dengan perbedaan kualitas air lindi yang dihasilkan dalam percobaan dengan menggunakan temperatur -18 oC, 22 oC, dan 70 oC. Konsentrasi Uranium, Molibdenum, Vanadium, dan Sulphate meningkat seiring dengan meningkatnya temperatur, termasuk acidity.

Dalam sistem timbunan batuan, peningkatan temperatur dapat mempengaruhi kondisi fisik timbunan, dimana rongga/pori batuan yang terisi air akan terbuka karena terjadi penguapan, mengakibatkan masuknya udara mengandung oksigen yang kemudian dapat memicu terjadinya oksidasi (Catatan: hanya diperlukan sedikit air untuk bersama oksigen mengoksidasi pyrite).

Selamat berdiskusi. Salam.

Candra

 

 

 

Tagged with: , ,

Wet cover systems

Posted in Diskusi by Candra Nugraha on 19/07/2012

Mungkin pernah mendengar istilah ini? Istilah ini lazim digunakan untuk menyebut sebuah sistem lapisan penutup batuan yang berpotensi mengandung asam, atau dikenal luas dengan sebutan Potentially Acid Forming (PAF). Tujuan dari penutup ini adalah untuk mengurangi potensi masuknya oksigen dan air kedalam timbunan. Seperti dijelaskan di tulisan-tulisan sebelumnya, pembentukan air asam dipicu oleh kehadiran dua komponen tersebut, air dan oksigen.

Mengapa disebut sistem lapisan? Karena dalam beberapa kasus, penutup batuan PAF ini dapat terdiri atau tersusun dari berbagai material yang dibentuk lapis demi lapis, seperti misalnya tanah liat dan batuan NAF, batuan NAF dipadatkan dan soil, dan sebagainya.

Seperti dijelaskan disini, penutup dapat berupa penutup kering (dry cover) atau penutup basah (wet cover). Istilah wet cover lazim digunakan untuk sistem penutup yang menggunakan air, sedangkan dry cover digunakan untuk penutup yang menggunakan material lain yang cenderung kering.

Teknik wet cover system secara prinsip sangat sederhana, yaitu menempatkan batuan PAF dibawah lapisan air dengan kedalaman tertentu. Para peneliti banyak yang mengatakan bahwa kedalaman air 1 meter cukup untuk menutup material PAF dari kemungkinan teroksidasi oleh adanya oksigen yang masuk ke lapisan batuan PAF tersebut. Ya, air merupakan lapisan yang efektif untuk menahan laju oksigen ke kedalaman. Namun, tentu saja kedalaman 1 meter ini memerlukan prasyarat, yaitu lapisan air tidak teraduk atau mengalami turbulensi akibat tiupan angin, aliran air yang deras, dsb. Oleh karena itu, para ahli lain menyarankan kedalaman 2 meter untuk mengantisipasi kondisi tersebut.

Dalam prakteknya, wet cover system ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan lubang bekas tambang yang diisi kembali (back fill) dengan overburden, yang kemudian menyisakan ruang agar air bisa menggenangi material tersebut. Tentu saja, secara operasional, hal ini berarti akan mengurangi potensi volume yang bisa ditimbun di area tersebut :). Sampai kapan air harus menggenangi material tersebut? Jawabannya adalah: selamanya. Oleh karena itu, penting untuk memperhitungan kondisi hidrologis di lokasi tersebut, untuk dapat memastikan bahwa air yang masuk ke area tersebut tidak lebih kecil dibandingkan dengan air yang keluar (over flow) atau menguap (evaporasi). Tersingkapnya material PAF akan berpotensi pada terjadinya air asam.

Bagaimana jika material tersingkap dan kemudian menjadi media tumbuh tanaman air? Apa yang terjadi dilokasi tersebut? Bagaimana kemungkinan kualitas airnya? dsb…. Jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dibahas secara khusus pada bagian “Wetland”.

 

Salam lingkungan,

Candra
 

 

 

Tagged with: , ,

Pengelolaan tanah penutup pada pertambangan nikel

Posted in Tak Berkategori by Candra Nugraha on 13/02/2012
Sebuah pertanyaan masuk ke admin airasamtambang.info seperti dibawah:
 
———–
Mau menanyakan tentang pengelolaan tanah penutup pada penambangan nikel yang berpotensi menghasilkan air asam tambang. Yang saya ingin tanyakan, bagaimana mengelola tanah penutup di daerah penambangan nikel tersebut? Apakah pencegahannya  sama dengan yang dilakukan pada penambangan  batubara?
 
Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.
 
———
 
Dipersilahkan bagi rekan-rekan yang ingin berbagi terkait pertanyaan ini.
 
Salam,
Admin
Tagged with: ,

AAT di tambang timah

Posted in Tak Berkategori by Candra Nugraha on 12/05/2010

huda berkata, pada 25/03/2010 at 20:30

Salam,
saya ingin mengetahui perbedaan perlakuan AAT antara tambang batubara dan timah. Kebanyakan hanya membahas penurunan derajat keasaman saja tanpa membahas efek racun yang dibawa oleh AAT ini. Adakah penelitian yang melibatkan agen bioremediasi namun menggunakan tanaman (bukan bakteri atau alga) terutama untuk logam2 berat. Sebab bila menggunakan kapur saja, ini hanya berpengaruh dan efektif untuk wilayah terbatas, namun bila luas kawasan mencapai ratusan bahkan ribuan hektar, apakah tetap efektif?
Terima kasih

—-

Fanteri berkata, pada 07/05/2010 at 15:42

Mas, apakah ada potensi pembentukan air asam tambang di pertambangan timah?

Terimakasih

Pemilihan jenis analisa batuan

Posted in Diskusi by Candra Nugraha on 10/11/2009

f*****@*********.co.id

Tanya:

Ian Wark Institute membagi metode NAG test ke dalam 3 tipe, yakni single addition NAG test, sequential NAG test, dan kinetic NAG test. Single addition NAG test tepat digunakan utk sampel dengan total sulfur < 1.5%. Namun demikian, jika kita ingin melanjutkan ke sequential NAG test, maka akan membutuhkan waktu sekitar 2 hari, sehingga secara operasional pemindahan OB setelah blasting tidak akan terpenuhi. Mohon pendapat, metode NAG test yang mana yang tepat digunakan.

 

Jawab:

Untuk kepentingan operasi yang hanya membagi batuan dalam NAF dan PAF, NAG test lebih umum digunakan dengan hanya melihat nilai NAG pH-nya pada akhir reaksi batuan dengan larutan hydrogen peroxide (H2O2).

Namun, apabila diperlukan data batuan lebih lengkap, yaitu memprediksi nilai total kg H2SO4/ton batuan, analisa secara lebih detail dengan titrasi NaOH serta sequential NAG test dapat dilakukan. Memang, pelaksanaan analisa ini memerlukan waktu yang lama.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pemilihan jenis pengujian disesuaikan dengan tujuannya, termasuk dalam hal ini tujuan dari pengelolaan batuan tersebut.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.